Aku sudah berada pada langkah yang tak lagi menghadapmu. Sosok yang pernah begitu hebatnya membuatku gugup bukan main dan selalu menciptakan debar di segala isi kepala dan hatiku.
Tanganku perlahan lahan akan terbiasa tanpa genggaman-genggaman hangat yang dulu begitu erat merangkap dengan amat sangat. Mulutku akan terbiasa tak mengucap namamu menjadi rindu di waktu malam entah saat sepi ataupun dalam perayaan rinduku saat sendiri.
Mataku lebih sibuk menatap buku-buku dan tugasku.
Jemariku pun lebih sering menulis hal-hal yang kusukai, tentang apapun yang kusebut perjalanan.
Kabar darimu sudah menjadi angin yang hanya melewati beranda rumahku lalu pergi untuk kemudian lenyap.
Kini, seluruh ragaku berganti peran yang berbeda.
Tidak lagi mengandalkan tangis sebagai obat penenang luka, tidak lagi mengharapkan waktu untuk memulihkan segalanya.
Detik ini juga, aku dan isi kepalaku berdamai atas perselisihan tentangmu.
Semua yang pernah membuatku terpenjara pada kenangan sudah pamit dari sesakku.
Aku mendapatkan lagi diriku yang seutuhnya setelah sebelumnya terbagi atas hatimu dan perasaanmu.
Waktuku akan lebih banyak untuk berbicara tujuanku.
Hariku kembali membuka jalan untuk menemukan kebahagiaanku. Kebahagiaan yang pernah begitu asing kutemui sejak aku dipaksa merapikan luka yang kuterima darimu.
Aku dan hidupku kini sudah lebih baik tanpa ada air mata yang sia-sia jatuh,
Tanpa ada sunyi-sunyi yang membuatku rapuh.
Aku punya impianku, aku memiliki mimpi besarku, bahwa apa yang kulakukan kini kelak menjadi apa yang dulu kuinginkan.
Aku merawat sendiriku dengan caraku.
Untuk urusan bahagia, aku punya Tuhan yang siap memberikannya kapan saja disaat aku terus berdoa.
Tanganku perlahan lahan akan terbiasa tanpa genggaman-genggaman hangat yang dulu begitu erat merangkap dengan amat sangat. Mulutku akan terbiasa tak mengucap namamu menjadi rindu di waktu malam entah saat sepi ataupun dalam perayaan rinduku saat sendiri.
Mataku lebih sibuk menatap buku-buku dan tugasku.
Jemariku pun lebih sering menulis hal-hal yang kusukai, tentang apapun yang kusebut perjalanan.
Kabar darimu sudah menjadi angin yang hanya melewati beranda rumahku lalu pergi untuk kemudian lenyap.
Kini, seluruh ragaku berganti peran yang berbeda.
Tidak lagi mengandalkan tangis sebagai obat penenang luka, tidak lagi mengharapkan waktu untuk memulihkan segalanya.
Detik ini juga, aku dan isi kepalaku berdamai atas perselisihan tentangmu.
Semua yang pernah membuatku terpenjara pada kenangan sudah pamit dari sesakku.
Aku mendapatkan lagi diriku yang seutuhnya setelah sebelumnya terbagi atas hatimu dan perasaanmu.
Waktuku akan lebih banyak untuk berbicara tujuanku.
Hariku kembali membuka jalan untuk menemukan kebahagiaanku. Kebahagiaan yang pernah begitu asing kutemui sejak aku dipaksa merapikan luka yang kuterima darimu.
Aku dan hidupku kini sudah lebih baik tanpa ada air mata yang sia-sia jatuh,
Tanpa ada sunyi-sunyi yang membuatku rapuh.
Aku punya impianku, aku memiliki mimpi besarku, bahwa apa yang kulakukan kini kelak menjadi apa yang dulu kuinginkan.
Aku merawat sendiriku dengan caraku.
Untuk urusan bahagia, aku punya Tuhan yang siap memberikannya kapan saja disaat aku terus berdoa.
--Kutipan dari Indra R.--
Komentar
Posting Komentar