Puisi by Wira Nagara - Kopi, Lukisan, Kenangan




Kopi, Lukisan, Kenangan
by Wira Nagara

Lihat...
Tepat setelah lampu-lampu di padamkan...
Kau menyala sebagai satu-satunya yang ku rindukan...

Disini...
Ditempat yang paling kau hindari, aku pernah berdiri...
Menggores kata, menulis warna...
Pada ratapan panjang yang menguat dalam dinding kecemasan...
Aku mengisahkan kenangan di kepasrahan yang begitu lapang...
Retak berserakan...
Tanpa kediaman...
Terkoyak sepi, melayang diantara pekat aroma kopi...

Dengar...
Tepat setelah jejak-jejak dilangkahkan...
Kau menyapa sebagai satu-satunya yang ku nantikan...
Disini, di peluk yang pernah kau nikmati aku masih sendiri...
Mencari kehilangan, menemui perpisahan...
Pada letupan kenang yang memuat ruang kekosongan...
Aku membicarakan senyummu di keindahan yang telah hilang...
Hancur berkeping, tersapu kesunyian, terinjak lara...
Melarut dalam pahit yang diseduh air mata...

Tunggu, santailah sejenak...
Karna tepat setelah meja-meja di tinggalkan...
Kedai ini menyesak sebagai satu-satunya keterangan...
Satu kisah yang pernah kita upayakan, beribu rencana yang pernah kita perjuangkan, lenyap...
Kau memutuskan berpindah hati, sebelum satu persatu rencana kita berhasil di wujudkan...
Menggores kesadaran...
Menyayat perasaan...

Pada setiap kata yang memuat pertanyaan...
Aku mencari kau yang ku rindukan...
Aku menyapa kau yang aku nantikan...
Aku mencari...
Aku menyapa...
Aku menanti...
Aku merindu...
Aku terisak...
Aku menunggu hadirmu...
Dan kini, satu-satunya yang tersisa hanyalah...
Goresan yang ku buat sebagai prasasti kesendirian...
Kapanpun sunyi merasuk jiwamu, kemarilah...
Pesan kopi terpahit dengan kenangan termanismu...
Genggam kesedihanmu sebagai duka paling bahagia...
Dan bila hatimu butuh di dengarkan...
Temui aku dalam perbincangan...
Niscaya kopi yang kau pesan tak akan pernah sepahit kehilangan...

Komentar