Umur 20an

Kalau dipikir-pikir umur 20 itu kumpulan hal-hal pertama buatku pribadi. Pertama kali keluar dari zona nyaman ketika K2N, tinggal di masyarakat dan mulai mengerti bahwa sangat tidak gampang mengubah sesuatu. Pertama kali memberanikan diri hidup sedinamis itu yang akhirnya membuatku bisa berkenalan dengan banyak orang baru. Pertama kali belajar kerja sambil kuliah. Pertama kali mencoba untuk sedikit demi sedikit jadi idealis yang pragmatis.

Ada banyak sekali hal yang dulu aku sebut dalam doa. Setiap kali aku berdoa untuk ego aku sendiri, kepentingan aku sendiri, itu hampir gak pernah dikabulkan. Tapi ketika hal yang aku inginkan dalam doa itu sesuatu yang meringankan beban orang tua aku, membuat aku jadi lebih dewasa, atau mengajarkan aku untuk bersyukur atas hal-hal kecil, semua itu dengan mudah dikabulkan. Dan karena itu Allah mempermudah jalan aku untuk tidak berkutat dengan hal-hal yang tidak perlu dan tidak substansial.

Di umur ini aku belajar bahwa semua pujian dan kritik itu ujian. Pencapaian dan kegagalan itu ujian. Jadi, namanya berkah terbesar itu bukan uang, pamor, atau hal materiil lainnya, tapi kesempatan kita untuk belajar apapun yang terjadi.

Aku belajar ternyata aku selalu bisa keluar dari jeratan masalah dan kerumitan pikiranku sendiri. Bahwa ternyata hidup selalu memulangkan cahayanya. Kalau kita jatuh ke jurang, ya tanamlah bunga disana. Kalau kita dibuang ke laut oleh seseorang, ya jadilah penyelam yang baik. Kalau kita dibuat kesakitan, ya ciptakan keindahan dari hal paling sedih sekalipun. Kalau kita gagal, ya izinkanlah diri kita gagal karena bukti, bukan karena keraguan kita sendiri.

Aku pikir rezeki aku tahun ini banyak sekali. Allah ga ngasih hadiah yang sifatnya jangka pendek. Tapi semua kemudahan yang sifatnya jangka panjang tiba-tiba hadir tanpa diduga-duga. Bahkan termasuk hal-hal yang tidak pernah aku minta.

Rezeki punya banyak nama. Mulai dari keberhasilan kamu melakukan hal yang kamu pikir gak bisa, kesempatan bertemu orang-orang hebat, saat kamu bisa melawan keraguan kamu sendiri, atau sewaktu kamu berhasil melihat situasi tersulit dan perasaan paling kacau sekalipun sebagai peluang untuk berkembang.

Rasa sakit, duka, tidak suka terhadap sesuatu dalam hidup itu manusiawi. Menangislah kalau kamu ingin menangis. Marahlah pada yang tidak memanusiakanmu. Bertanya-tanyalah tentang hal yang tak pernah selesai. Semuanya terserah kamu.

Tapi benci dan lari itu bukan pilihan. Benci dan lari hanya pilihan orang-orang yang kalah dan tidak cukup pandai menemukan celah keputusan yang baik.

Padahal kebaikan adalah hal mutlak yang harus selalu diperjuangkan. Selalu ada cara yang baik untuk menyelesaikan segala sesuatu. Selalu ada alasan untuk baik terhadap hal-hal, peristiswa, dan orang-orang yang keji.

Dan saat kita diberi kesempatan untuk belajar memperjuangkan kebaikan diatas itu semua.

Itulah rezeki yang paling besar.



source : line human development

Komentar