Klandestin

 

Surabaya, 016

Tahun 16, tepatnya delapan tahun lalu. Seorang anak perempuan pertama kali jatuh cinta pada seseorang. Dia adalah anak laki-laki yang manis, tinggi, warna bola matanya coklat dan sorot matanya yang tajam. Satu hal lagi yang diingat dari anak perempuan itu adalah tas Paul Frank yang selalu di punggungnya ketika ada di sekolah. Jangan tanya, mengapa bisa? Anak perempuan itu sendiri juga tidak tahu mengapa ia bisa mencintainya. Saat waktu istirahat adalah waktu yang ia tunggu. Ia dengan senang hati melihatnya bermain sepakbola di lapangan sekolah. Anak laki-laki itu hebat dalam bermain sepakbola, dia juga hebat dalam pelajaran matematika tapi sekarang anak perempuan ini tidak tahu banyak lagi tentangnya.

Anak laki-laki ini merupakan sosok yang baik tapi terkadang dingin. Ia menyukai banyak hal darinya dan ia sangat menyukai masa-masa itu. Ia bahagia sekali ketika melihat dia tertawa, mendengar suaranya, melihat tingkahnya yang terkadang lucu menggemaskan saat bermain ditengah lapangan sekolah. Ia mencintai dia, cinta pertamanya. 

Ketika masa itu selesai, anak perempuan itu pindah ke suatu kota. Selama beberapa tahun ia lost contacts dengan teman-teman yang dulu. Ia terus mencoba mencari nama teman-temannya di akun media sosial dan jeda beberapa minggu ia berhasil menemukan salah satu akun temannya. Apakah ia senang? Pasti. 

Ia tidak sabar untuk menghubungi temannya. Singkat cerita, masuklah ia kedalam grup chat. Ruang obrolan didalam grup chat serasa menemukan bahagia yang sudah lama ia nantikan. Ia sangat bahagia. 

Ia memutuskan untuk datang ke acara reuni yang sudah dibuat hingga ia bertemu lagi dengannya, cinta pertamanya. Ini pertama kalinya ia bertemu dia setelah beberapa tahun. Anak laki-laki itu tidak berubah hanya tingginya yang lebih menjulang. Mata dan senyumnya masih seperti yang dulu ia kenali. Ia senang bisa mendengarkan cerita mereka yang tidak pernah ia tahu sebelumnya. Bertukar kabar dan cerita membuat ia menikmati waktu yang ada. Saat yang sama, pandangannya juga tidak pernah lepas dari wajah anak laki-laki itu. Ia berkali-kali memandang wajahnya, terlihat bentuk rahangnya sedikit tegas dan kumis tipis sebagai penghias wajahnya. Hari itu ia benar-benar bahagia. Sejak saat itu teman-temannya sering mengadakan temu.

Tahun ini ia bertemu lagi dengan anak laki-laki itu. Ia membuat janji dan memutuskan ke rumahnya. Meskipun saat itu hujan deras mengguyur seluruh tubuhnya dan membuat ia kedinginan. Tapi ia tidak peduli dengan kondisinya. Ia akhirnya tiba di rumah anak laki-laki itu dan hujan mulai mereda yang tersisa hanyalah gerimis. Ia mulai mengetuk pintu rumahnya dan anak laki-laki itu kaget melihat ia basah kuyup dan dia langsung mengajaknya masuk ke ruang keluarga. Mungkin rasa dingin yang menjalar di tubuhnya bisa ia lupakan dan berganti rasa senang yang menjalar ditubuhnya. Anak laki-laki itu keluar membawa teh hangat dan sebuah handuk kecil. Dia menanyakan, mengapa bisa ia tetap kesini padahal bisa di batalkan. Tapi ia hanya meringis mendengar pertanyaannya. Memang yang ia lakukan hal yang konyol tapi selama ia bisa melakukan hal yang membuat ia bahagia, ia akan melakukannya.

Malam itu ia merasakan bahagia bertemu, melihat dan mengobrol banyak dengannya. Obrolan malam itu terasa istimewa baginya. Anak laki-laki itu bercerita banyak hal tentang semua rencana dan mimpinya dan ia hanya mendengarkan semuanya dan menikmati dia bercerita. Tapi sesaat ada hal yang ia sadari bahwa rencana dan mimpinya itu untuk orang lain. Terlihat sorot mata dan cara bicaranya yang mengartikan banyak hal. Ia langsung terdiam dan cukup paham bahwa dia ingin membahagiakan seseorang. Tentu saja hatinya setuju dengan logikanya.

Tapi ia bersyukur dengan hal-hal kecil yang bisa ia nikmati saat bersamanya. Walau bagaimana pun ia bisa menebak apa yang akan terjadi di masa depan. Ia hanya tidak ingin dia tahu bahwa ia mencintainya selama bertahun-tahun karena ia tidak ingin merusak pertemanan yang sudah terjalin.

-----------------------------------------------------------------------------

Surabaya, 017 - 019

Tahun 17 dan 19 ini ia semakin sering bertemu di acara reuni. Ia mencoba bersikap baik-baik saja setelah apa yang ia ketahui saat bertemu dengannya. Ia tetap menyunggingkan senyuman walaupun jauh di dalam hatinya bunga itu sedikit merangas. Seperti biasa, ia menyukai saat berkumpul dengan teman-temannya. Terasa menyenangkan. Meskipun tahun terus berganti, ia masih mencintai orang yang sama. Ia tahu dia sudah memiliki seseorang. Banyak teman mengatakan hal itu. Keinginannya sederhana, melihat dia ketika tertawa dan mendengar suaranya itu sungguh sudah cukup baginya. Ia berpikir, rasanya ia harus siap menerima kabar tentangnya di masa depan. Intuisi membawa pikirannya seperti itu. Terdengar naif bukan? Memang itulah yang terlihat.

Meski di dalam kamar hatinya, bunga yang ia tanam tidak bisa mekar. Cahayanya pun kian meredup. Apa ini menyiksa? Iya.

------------------------------------------------------------------------------

Surabaya, 020

Tahun 20, sebuah era dekade baru dalam kehidupan termasuk kehidupan anak perempuan itu. Baginya tahun ini cukup mengejutkan kamar hatinya, mungkin menghantam dengan keras hingga menyesakkan dada. Sebuah hal yang tidak ia sangka mulai datang di kehidupan kamar hatinya. Ia mulai melihat laman media sosialnya. Mendadak pelupuk matanya dipenuhi cairan bening. Ia tidak percaya apa yang ia lihat. Ia menahan tangis dan menghela napas panjang, kata-kata "apa yang terjadi?" terus menyerang pikirannya. Ia melihat kabar dia bertunangan dengan orang lain di layar ponselnya benar-benar menghantam dadanya. Dalam hatinya ia terus mengatakan bahwa ia belum siap dengan apa yang terjadi saat ini. Mencoba mencerna dan sekali lagi ia melihat layar ponselnya, masih dengan foto yang sama. Foto dua orang yang tersenyum menghadap kamera serta dia berpakaian kemeja dan disampingnya seorang perempuan berpakaian kebaya. 

Dia, anak laki-laki yang ia cintai itu bertunangan dengan pilihannya. Anak laki-laki yang ia cintai bertahun-tahun itu melangkah kearah yang berbeda. Sungguh. Berkali-kali ia menghembuskan nafas panjang tapi tetap saja ritme jantungnya terus berpacu kencang. Tangis yang ia tahan mulai pecah seiring dengan suara raungan tangisnya. Ia menangis hingga matanya sangat sembab. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, ia harus melepaskan dia. Ia benar-benar menanam bunga yang tidak bisa mekar di tempat yang salah. 

Deru napasnya mencoba ia kontrol kembali. Ia harus terima itu. Lalu ia mencoba mengetik beberapa pesan instant di ponselnya. 

"kamu sudah menemukan rumahmu bukan? Apa kamu bahagia? Buat dia bahagia, karna bahagianya adalah kamu. Sedangkan rasa legaku adalah melihatmu bahagia bersama orang yang kamu pilih. Bahagialah."

Ia berusaha mengusap tangis dipelupuk matanya. Menenangkan jiwanya dengan napas panjang. Berpikir bahwa semua ini bisa saja terjadi kapan pun. Saat ini kamar hatinya dipenuhi kesepian.

Terkadang semesta memang punya banyak cara membuat kita terluka dan bahagia. Memang perasaan tidak selalu bisa bertemu pasangannya, bukan?

-----------------------------------------------------------------------------

pic:pinterest

Komentar