Jam menunjukkan pukul 11.55 malam, seharusnya di jam-jam seperti ini orang-orang sudah terlelap. Namun tidak denganku, mataku masih menatap kosong ke layar laptoku. Awalnya aku menulis beberapa tulisan yang akan aku posting di blog pribadiku tapi ditengah-tengah proses menulis, lagi dan lagi aku mengalami kesulitan. Aku tidak menemukan ide didalam kepalaku yang seakan buntu.
Otak dan hatiku tampaknya saling bergemuruh di heningnya malam ini. Aku memikirkan, bagaimana hidupku di masa depan? Apakah aku bisa melewati takdir hidup yang telah di tetapkan? Apakah aku bisa bertahan hidup?. Ah pertanyaan-pertanyaan sialan itu terus menghantui pikiranku yang mulai linglung. Pertanyaan itu membuatku menarik nafas panjang dan tak terasa jam yang tergantung disisi kananku menunjukkan pukul 00.00. Apa aku menghabiskan lima menitku untuk berpikir tentangku dimasa depan? Ah sial, pikirku.
Ketika pukul 00.00 adalah hari baru tapi ketakutanku menghadapi dunia ini juga semakin tinggi. Tiba-tiba aku menangis tanpa alasan. Aku merasa payah dalam menjalani hidupku karena aku berpikir aku terlambat dalam banyak hal. Orang-orang diluar sana terlihat lebih bahagia dan melesat jauh daripada diriku. Bisa dikatakan lebih beruntung, terlihat seperti "wah mereka kenapa bisa seperti itu? wah dia beruntung", dan banyak sekali kata "wah" yang pernah terlintas di pikiranku. Terkadang perbandingan dengan orang lain menjadi rutinitasku. Rasanya aku ingin marah dengan hidupku dan juga diriku.
Air mata yang aku rasakan mengalir deras dan aku berusaha merasakan alirannya. Berjalan ke cermin dan menatap diriku yang payah ini, aku menghadapi diriku. Mataku, mata yang kosong dan dipenuhi air mata itu kini terpantul dengan jelas didalam cermin, aku melihat diriku menangis. Lihatlah aku, aku payah, buruk dan kesepian. Ini pertama kalinya aku melihat diriku menangis setelah tahun 2016. Hampir empat tahun aku tidak melihat diriku menangis sehebat ini.
Aku bertanya, "sejauh apa aku berjalan sampai dititik ini? Apa aku benar-benar menjalani hidupku dengan baik?". Selama hampir empat tahun, aku menanggung banyak tekanan dan aku tidak bisa menyalurkan tekanan itu ke bentuk yang lain. Melihat mataku yang ketakutan itu, aku menangis lagi.
Gelap dan sunyi ini membuatku kesepian dan ketakutan. Ah rasanya membuatku terpenjara dengan kesakitan. Apa ini aku? Apa ini diriku? Apa ini semua salahku? Aku seperti bukan diriku, aku seperti monster dan bayangan ditengah malam ini, menangis kesakitan lagi. Lihatlah aku menyerah pada diriku. Lihatlah sekali lagi, aku takut menghadapi takdir hidupku sendiri.
Tubuhku ambruk dan lemas. Aku masih menangis kesakitan. Kesakitan, tekanan dan luka masa lalu berbaur menjadi satu membuat dadaku semakin sesak. Aku tumbuh dalam rasa nyeri yang berkepanjangan. Luka yang belum sembuh ditambah dengan hal-hal menyakitkan selama empat tahun. Luka masa lalu perlahan menyelimuti seluruh tubuhku tapi aku masih mampu tersenyum. Topeng yang aku pakai itu nyatanya berhasil. Orang-orang mengenaliku karena aku humoris tapi jauh dalam diriku, aku orang yang rapuh dan penuh kesakitan. Ah aku tidak percaya, aku mampu bertahan. Jika aku tidak bertahan, aku mungkin mati.
Mendekap tubuhku sendiri. Aku masih kesal, sakit lagi dan air mata yang tak mau berhenti. Aku ingin berlari dan terbang ke langit, mengapai semua apa yang aku impikan dan inginkan tapi sayangnya aku berjalan dalam kegelapan. Tak ada cahaya satupun disampingku. Tak ada seorangpun yang mampu mengenggam tanganku. Tak ada yang bisa mendengar tangis kesakitanku. Tak ada yang bisa aku ajak bercerita tentang diriku sebenarnya. Aku ketakutan. Aku kesepian dan aku payah. Bagaimana jika kamu hidup seperti itu?
Aku kesakitan lagi, jika rasa sakit itu menumbuhkan sayap untukku agar aku bisa terbang tinggi menembus udara setelahnya, aku menahannya dan membiarkan rasa sakit menerkamku. Aku tidak tahu sampai berapa lama aku bisa bertahan. Aku ingin bebas dari rasa sakit yang menyelimutiku.
Menangis semalaman membuat tubuhku kehilangan banyak energi dan mataku terasa bengkak. Aku melihat jam lagi, ternyata sudah pukul 02.40 pagi. Oh, ada apa denganku? Aku menarik kemudian menghembuskan nafas panjang agar paru-paruku bisa bernafas lega, aku menangisi diriku yang payah ini selama beberapa jam. Beranjak dari tempatku menangis, berjalan dan menghempaskan tubuhku di tempat tidur.
pic:pinterest

Komentar
Posting Komentar