Catatan Akhir Tahun 20



Melewati tahun 20 ini rasanya seperti tersesat, kehilangan arah dan tujuan. Berbagai pertanyaan mulai muncul dibenakku.

"apakah aku menjalani hidupku dengan baik?"

"kemana aku harus berjalan dan berlari?"

"kemana aku harus pergi?"

"apakah aku tersesat ditengah dunia yg rumit ini?"

"bagaimana kalau aku benar-benar tersesat?"

dan pertanyaan yg terkadang membuatku sedikit tidak terima akan waktu, "apa aku mulai jadi dewasa?"

Mungkin dari aku lulus SMA, aku mulai berpikir banyak hal yang membuat kepalaku sering kesakitan. Segala macam tuntutan, sampai tanggung jawab pun mulai mendatangiku dan menjebakku. Dunia ini sudah rumit, tapi aku kadang tidak sadar kalau dunia ini juga kejam. Menjalani tahun ini seperti berlayar tanpa kompas, tidak tahu mana arah barat, timur, utara dan selatan. Aku menyebutnya kehilangan arah dan tujuanku. Aku mempertanyakan diriku dan hidupku. 

Kau tahu, sebelumnya aku tidak pernah merasa seperti ini. Aku bingung dengan apa yang aku lakukan. 

Disisi lain, aku terus menuntut diriku agar berlari tanpa tahu tujuan ditengah ketersesatan. aku tidak peduli akan diriku yang berdarah, lebam dan rapuh. Aku terus mendorongnya dan tidak membolehkan tubuh dan pikiranku beristirahat. Aku hanya tahu, aku berlari.

Berlari tanpa setitik cahaya memang menyulitkan. Cahaya bulan pun tidak ada dan aku ketakutan. Hmm tersesat, tersesat dan tersesat. Ada alasan dibalik frustasi ini.

Saat aku berlari terlalu keras, tubuhku benar-benar ambruk dan hancur. Aku menangis terisak ditengah pusaran lubang yang besar. Aku benar-benar menangis. Aku sangat putus asa menjalani hidupku. Pikiran untuk bunuh diri mulai merayuku lagi. Oh fuck it, setan apa yang merasuki pikiranku. Kilas balik masa lalu terus membayangiku. Aku tidak tahan lagi. Aku mengerang ditengah-tengah tangisanku.

Mencoba untuk menyadarkan dan menenangkan diriku. menghirup oksigen sebanyak mungkin dan membuangnya secepat mungkin. Aku terduduk dalam keheningan dan mulai menutup mataku. Mencari cahaya dipalung hatiku yang terbawah. Aku harus menemukan cahaya itu lagi.

Jika aku menemukan cahaya dipalung hatiku, mungkin cahaya bulan juga akan mengikutiku. Yaa, aku percaya itu. Aku membuka mataku dengan tenang. Aku melihat sekelilingku lagi dan lagi, aku melihat ada setitik cahaya ditengah tersesatku.

Walaupun redup, aku sedikit tidak takut lagi. Aku mulai membangun rasa percayaku bahwa diujung dari ketersesatanku, akan ada hal baik yang datang padaku. Aku mulai berpikir ulang untuk memperlambat kecepatanku, aku akan berjalan dan bukan berlari lagi.

Dan sekarang, aku harus berjalan dengan cahaya yang kupunya. Aku berharap, cahaya itu tidak pernah hilang lagi. Walaupun banyak pertanyaan yang belum aku temukan jawabannya, aku harus tetap berjalan dijalanku.


Komentar